Pendahuluan
Obesitas saat ini menjadi masalah dunia, termasuk Indonesia; dalam kurun waktu 3 tahun saja terjadi peningkatan jumlah pengidap obesitas di Indonesia, dari yang sebelumnya 13,9% pada tahun 2007 menjadi 15,4% (sekitar 40 juta) pada tahun 2010. Jumlah pengidap obesitas dewasa pada wanita hampir 2 kali lipat lebih tinggi di Indonesia, dan pada anak pengidap obesitas paling tinggi dialami usia 5-12 tahun. Obesitas merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular (non-communicable disease/NCD) seperti diabetes, penyakit jantung-pembuluh darah, kanker dan penyakit paru kronik. Selain melakukan aktivitas fisik, manajemen obesitas ditangani dengan melakukan modifikasi diet. Terlepas dari diet gizi seimbang yang saat ini dianjurkan sebagai jenis diet ideal untuk diaplikasikan dalam pola makan kita sehari-hari, berbagai jenis diet lain saat ini telah dikenal di kalangan masyarakat, sebutlah seperti diet Atkins, diet Mayo, Diet golongan darah, diet OCD dan diet yang saat ini sedang popular yaitu diet Ketogenik.
Sejarah diet keto
Diet ketogenik atau yang dikenal dengan sebutan diet keto, saat ini menjadi popular dan sering diperbincangkan karena selain dikatakan dapat menurunkan berat badan, metode yang digunakan cukup unik yaitu dengan mengonsumsi asupan tinggi lemak. Sebetulnya diet keto bukanlah jenis diet baru, diet ini telah dicanangkan hampir 100 tahun yang lalu yaitu sekitar tahun 1920 an oleh dokter Russel Wider, salah satu founder dari Mayo Clinic dan seorang pengajar dari Johns Hopkins University Hospital Maryland (Amerika). Dokter Russel memberikan diet tinggi lemak dan menurunkan asupan karbohidrat secara drastis pada pasien-pasien epilepsi, dengan tujuan untuk menciptakan kondisi membran sel saraf yang hiperpolar sehingga aktivitas impuls yang hiperaktif pada otak pengidap epilepsi dapat diturunkan, sehingga diet tinggi lemak ini menciptakan efek antiepilepsi.
Mekanisme diet keto dalam penurunan berat badan
Diet keto dilakukan untuk menciptakan kondisi ketosis, yaitu kondisi dimana tubuh akan menggunakan sumber energi dari lemak akibat asupan karbohidrat yang sangat rendah. Dalam diet keto asupan lemak ditingkatkan hingga mencapai 75% dari total asupan kalori makanan dalam sehari, dan asupan karbohidrat diturunkan hingga hanya 5% dari total kalori harian (sekitar 20-30 gram saja perhari).
Pada saat tubuh kekurangan asupan karbohidrat, maka kadar glukosa dalam darah akan turun, pada kondisi ini lemak digunakan dan dipecah (dinamakan proses lipolisis) terbentuklah benda keton yang akan menjadi sumber energi alternatif untuk sel-sel tubuh, sehingga menyebabkan jumlah benda keton di dalam darah akan meningkat dan dikenal sebagai kondisi ketosis. Konsumsi protein dalam diet keto harus cukup tetapi tidak boleh berlebih (0,8-1 g/kgBB/hari), kelebihan protein dapat diubah jadi glukosa sehingga penggunaan dan pemecahan lemak sebagai sumber energi tidak tercapai. Untuk mengetahui apakah tubuh telah mencapai kondisi ketosis biasanya dapat dinilai melalui pemeriksaan kadar gula darah puasa, yang berada dalam rentang nilai 70-80 mg/dL.
Mekanisme lain terkait penurunan berat badan pada diet keto terjadi karena pada saat mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak tinggi kita akan merasa kenyang lebih lama, pada dasarnya makanan berlemak lebih sulit dicerna sehingga bertahan lebih lama dalam saluran pencernaan, akibatnya frekuensi maupun porsi makanan yang masuk dalam sehari dapat berkurang. Sumber lemak yang dipilih pada diet keto sebaiknya makanan yang mengandung lemak baik seperti alpukat, minyak ikan, yoghurt, minyak almond, buah zaitun dan VCO sehingga selain digunakan sebagai sumber energi, juga dapat memperbaiki profil lemak/lipid tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet keto selain dapat menurunkan berat badan, ternyata juga memperbaiki profil kolesterol dan kadar gula darah pada pengidap obesitas.
Risiko menjalani diet keto
Menurunkan asupan karbohidrat dalam menu sehari-hari dapat menyebabkan suatu kondisi yang dikenal dengan nama carbohydrate withdrawl, biasanya dialami pada fase awal menjalani diet ini dengan gejala berupa sakit kepala, perubahan mood (mudah marah), perasaan melayang dan rasa lemas. Diet keto juga meningkatkan risiko dehidrasi karena saat kita mengurangi asupan karbohidrat kita juga mengurangi asupan air karena secara struktur kimia karbohidrat merupakan zat nutrisi yang mengikat air. Menurunnya asupan air juga dapat meningkatkan risiko sembelit dan kekambuhan wasir karena proses pelunakkan feses membutuhkan asupan air yang cukup. Asupan air selama menjalani diet keto harus ditingkatkan untuk mencegah risiko-risko ini.
Menjalani diet keto juga rentan risiko hipoglikemia yang berbahaya dan mengancam nyawa. Tanda-tanda hipoglikemia harus dipahami bagi siapa saja yang hendak menjalani diet keto, disarankan juga memiliki alat glukometer untuk memantau kadar gula darah selama menjalani diet ini.
Pemilihan jenis lemak yang salah dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida serta asam urat yang merupakan faktor yang meningkatkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Oleh karenanya pengetahuan tentang pemilihan sumber lemak yang baik juga harus dimiliki.
Penutup.
Diet keto merupakan salah satu metode diet yang memanfaatkan asupan lemak sebagai sumber energi utama, dengan menurunkan secara drastis asupan karbohidrat. Kondisi ketosis yang diciptakan melalui diet ini diharapkan akan menurunkan berat badan dan kadar lemak dalam tubuh. Dehidrasi, sembelit, hipoglikemia dan perburukan profil lipid dan asam urat adalah hal yang perlu diwaspadai selama menjalani diet ini. Diet ini biasanya dilakukan sementara dan untuk jangka pendek, setelah target penurunan berat badan tercapai, disarankan kembali pada metode diet gizi seimbang.